2008 Bisnis Properti Masih Menjanjikan

JAKARTA – Sejumlah kalangan menyatakan, bisnis properti pada tahun depan masih memberikan harapan ditengah ancaman kenaikan harga minyak dunia dan dampak krisis subprime mortgage di luar negeri.

Secara makro, bisnis properti di tanah air jika dilihat dari nilai pertumbuhan kredit properti akan naik 25% dengan ekspansi kredit properti mencapai Rp 36,5 triliun. Kemudian, harga-harga tanah dan rumah akan meningkat rata-rata 10%-20%, serta subsektor perumahan, rumah toko (ruko), dan apartemen menengah, serta rumah susun (rusun) murah yang akan bergairah.

Demikian benang merah seminar bertajuk Prospek Ekonomi, Perbankan dan Properti Tahun 2008 yang diselenggarakan oleh PT Bank Tabungan Negara (BTN) di Jakarta, Selasa (4/12). Dalam sesi properti, hadir sebagai pembicara antara lain Asisten Deputi Pola Pembiayaan Kemenpera Tito Murbaintoro, Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit, Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, dan Chief Executive Officer PT Kiran Resources Indonesia Soebowo Musa.

Panangian mengatakan, ada sejumlah prediksi di bisnis properti yang mungkin bisa menjadi gambaran bagi para pelaku di bisnis tersebut. Seperti, pembangunan perkantoran, mal, trade center, dan kondominium mewah akan mengalami slow down. Kemudian, pembangunan apartemen menengah akan terus marak meskipun unoccupied units akan bertambah, dan nilai kapitalisasi proyek properti yang akan mengalami penurunan.

“BI rate saya prediksikan akan menjadi 8% untuk tahun depan. Properti akan tetap menjadi instrumen investasi yang paling solid. Masyarakat masih menganggap properti adalah investasi jangka panjang. Oversupply no problem, harga akan tetap naik,” kata Panangian.

Ali Tranghanda menilai, subsektor perumahan menengah bawah dan apartemen menengah akan menjadi primadona untuk tahun depan. Akan terjadi perluasan wilayah pengembangan properti di beberapa titik pertumbuhan di wilayah Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jadebotabek) seperti di Cibubur, Serpong, Kemang, Bintaro, Sawangan, dan Bekasi Timur.

“Lokasi dan konsep proyek akan menjadi kunci sukses pengembangan bisnis properti. Bagi konsumen, nama besar pengembang tidak akan selalu menjadi jaminan suksesnya proyek yang dibangun,serta akan terjadi limitasi pasar di sejumlah proyek properti,” ujar Ali.

Menurut Tito, sumber utama bagi para konsumen produk properti di Indonesia masih bersumber dari dana perbankan, hingga 58,5%. Sedangkan sumber utama pembiayaan bagi pengembang adalah dana sendiri, sekitar 62,3%.

“Bisnis properti terbesar sebenarnya berasal dari subsektor perumahan. Alasannya, kebutuhan rumah di Indonesia masih cukup besar, sekitar 5,8 juta unit dan kebutuhan per tahun rata-rata 800 ribu unit. Di satu sisi, pasar primer perumahan, baik pasokan maupun permintaan, masih belum efisien,” ujar Tito.

Soebowo Musa menerangkan, pasar pembiayaan perumahan sekunder sangat diperlukan untuk bisa menggerakkan bisnis properti lebih cepat. “Selama ini, pasar perumahan hanya bisa melibatkan pihak lokal, namun tidak dengan pembiayaannya. Pembiayaaan properyi seharusnya dapat diperoleh dari luar negeri, seperti penerbitan instrumen investasi real estate investment trust (REIT’s) dan secondary mortgage facilities (SMF),” jelas Soebowo.

Namun, ditengah masih menjanjikannya bisnis properti, ada sejumlah kendala yang dihadapi di bisnis ini, seperti kebijakan pemerintah (goverment policy) yang dinilai belum cukup bersahabat. Hal lainnya, kebijakan pemilikan properti untuk orang asing yang belum kompetitif, tax policy di bidang penjualan properti yang masih terlalu ketat, proses perizinan properti yang terlalu panjang dan under the table transaction (high cost economy).

Kemudian, peraturan daerah yang tidak market friendly, hukum perlindungan bagi konsumen yang masih lemah, serta pemerintah tidak memiliki property information center.
Berita ini saya copy dari www.rumah123.com

~ by ogaoga on January 2, 2008.

Leave a Reply